YAMAN
Sebagian dari pembaca mungkin belum mengenal nama salah satu negara di
jazirah Arab ini. Penilaian seperti ini bukannya tanpa dasar, karena
berdasarkan survey (non formal) yang pernah dilakukan kawan-kawan mahasiswa
saat chatting, dari 100 % netter yang umumnya adalah kawula muda ini, 50%nya tidak mengenal negara
berpenduduk sekitar 22 juta jiwa ini. “Jangankan mengenal, tahu saja tidak?!,”
kata salah seorang teman saya menjelaskan hasil penelitian itu. Untuk sisanya
pernah dengar, akan tetapi tidak sedikit yang berkomentar dengan nada sinis
(sebagaimana yang dituturkan sahabat saya yang lain) “O….negara berbau teroris itu
ya?”, ada juga yang berseronok begini “Yang saya tahu dari Yaman adalah negara
serba terbelakang!!”. Dan tentunya masih banyak lagi cemoohan lain yang esensi dari
semua itu adalah nada-nada negatif terhadap Yaman.
Contoh kasus lain yang saya alami dan juga kawan-kawan, saat masih
di tanah air atau tepatnya saat menjelang berangkat study ke negara
miskin di kawasan timur tengah ini. Kejadian itu terjadi saat kami sedang
mengurus administrasi seperti passport, medical dan surat-surat yang lain.
Tidak jarang petugas yang menangani keadministrasian itu “wanti-wanti”
kepada kami, kelak jika sudah pulang hendaknya jangan menjadi bagian dari Islam radikal (baca: Islam garis keras) bahkan teroris. Dan masih seabreg kasus
serupa yang membualkan.
Gambaran di atas memang belum bisa dikatakan mewakili persepsi
masyarakat Indonesia, namun menurut penulis setidak-tidaknya bisa mencerminkan
pandangan masyarakat kita, yang notabene
memberikan image tidak baik terhadap Yaman. Akan tetapi lain bahasannya kalau kita
menyimak respon kalangan pesantren, bisa dipastikan mereka mengetahui kondisi
Yaman yang dari dahulu memang populer dengan keilmuannya.
Sekarang
persoalannya kenapa masyarakat Indonesia pernah memberi image teroris
kepada Yaman, atau memang identikkah negara ini dengan sebutan itu? Jawabannya,
Nonsen!!…Hal ini bisa terjadi “mungkin” karena kebetulan Osama bin Laden yang
dicap biang kerok teroris oleh Amerika adalah lahir di Yaman. Begitu juga
dengan Abu Bakar Ba’asyir yang dituduh mempunyai jaringan Jam’iyyah Islamiyyah
ini, adalah masih keturunan Yaman. Dan tentunya kita masih ingat nama Ja’far
Umar Thalib pendiri sekaligus pembubar Laskar Jihad itu, pernah belajar di
negeri “ibukota kebudayaan arab” ini, lantas negeri pusat penyebaran Islam di
semenanjung Arab ini, dikaitkan dengan teroris, jelas tidak relevan!!
Bagi
penulis, memberi kesan seperti itu adalah penjustifikasian yang tidak dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya. Kita semua tahu bahwa Yaman bukanlah milik
individual, dan kiranya perlu saya “tandaskan” bahwa negeri ini, sampai
sekarang masih dalam tahap membangun (kalau tidak boleh dikatakan negara miskin) yang belum lama merdeka. Dan yang lebih terpenting dari itu
semua adalah, bahwa Yaman adalah “gudang cendekiawan” yang ikut mencerdaskan
dunia, temasuk negara kitaIndonesia.
Negeri
yang sebenarnya kaya dengan tambang minyaknya ini, sebelum 17 tahun yang lalu
terbagi menjadi dua negara, yaitu: Yaman Selatan yang beribukota di Aden dan
Yaman utara yang beribukota Sana’a. Tepatnya pada tahun 1995 dua negara ini
bersatu dan sepakat untuk mendirikan pusat pemerintahan di Sana’a hingga
sekarang.
Sebelum Yaman Selatan menggabungkan diri, bangsa ini sempat
dijajah Rusia yang berfaham komunis yang imbasnya sangat menyengsarakan rakyat
jajahannya. Padahal sebelum dikuasai kaum komunis, negeri ini “dipimpin”
Inggris yang dampaknya memberi “kemakmuran” meskipun
belum bisa dikatakan sejahtera. Hal ini bisa dilihat dari
menjamurnya pabrik-pabrik besar dan banyaknya kapal pesiar untuk kegiatan
export-import di daerah Aden pada saat itu, begitu juga dengan ditandai dengan
melangitnya kurs mata uang dinar daripada U$. Akan tetapi, setelah pindah
kekuasaan ke negara pecahan Soviet itu, semuanya lenyap tanpa bekas.
Tragis juga memang!! Bagaimana tidak?? pabrik-pabrik itu diluluh-lantahkan
dengan tanah.Ada satu hal yang menarik yang perlu penulis singgung ,
negara tetangganya yaitu Yaman Utara, saat itu bebas dari gangguan penjajah. Setelah
sebelumnya merebut kekuasaan dari Kerajaan Imam Yahya.
Sekarang
setelah memproklamirkan diri untuk bersatu, ternyata warga Yaman Selatan sampai
saat ini masih menampakkan rasa kurang simpatinya terhadap warga syimali (Utara-Bhs.Arab)-walaupun
masih banyak orang-orang Yaman Selatan menerima hal ini dengan alasan kedamaian antar kabilah (baca suku), karena
porsi pemerintahan didominasi oleh orang-orang dari wilayah ini. Selain
itu, tengok saja Presiden Republik Yaman berasal dari dari Yaman utara yang
layaknya pemegang kekuasan tertinggi plus mutlak. Padahal menurut sistem
pemerintahan negara itu, terdiri dari tiga lembaga politik, diantaranya Wapres
(Putra Yaman Selatan), dan Majlis Nuwwab (MPR-nya Yaman). Anehnya ketiga lembaga itu dipersempit ruang
geraknya oleh sang Presiden yang memiliki masa jabatan 7 (tujuh) tahun ini.
Jadi seperti yang terjadi di Indonesia saat dipegang rezim ORBA, malahan sudah
tersebar kabar, setelah mengakhiri masa jabatannya sebagai penguasa nanti, Dia
akan diganti anaknya. Hal inilah yang menurut sebagian rakyat Yaman menjadikan
negaranya masih tertinggal jauh dari bangsa Arab yang lain, disamping
disebabkan faktor masih terjadinya perang antar suku dengan pemerintah seperti
halnya yang terjadi di Ma’rib, ditambah sikap anti AS untuk mengintervensi
negaranya dalam segala bidang, berbeda dengan Oman, Kuwait, Arab Saudi dan
negara Arab lainnya, dikarenakan salah satu faktor, campur tangan negara
adidaya itu. Memang untuk masalah hukum baik perdata maupun pidana, dalam hal ini
diatur dalam undang-undang, Hukum Yaman menempati posisi pertama di Liga Arab
karena notabene hukum yang tercantum dalam undang-undang “disadur” dari
syariat Islam. Akan tetapi hal ini belum menjamin, karena sebagaimana kita
ketahui selama ini Indonesia juga memiliki undang-undang yang dibentuk oleh DPR
yang nggak kalah bagusnya!! Mana hasilnya?? Maka semua itu tergantung pada
prakteknya, begitu juga dengan negara Yaman yang jelas-jelas negara
Islam..
Yemen
(ejaan Inggris) ikut andil dalam sejarah hadirnya agama Islam, hal ini bisa
diketahui dengan adanya katedral Nasrani yang diberi nama Qalis. Gereja ini
dibangun oleh raja Abraha seorang Gubernur dari Habasyah (Ethopia.red) untuk
menandingi ka’bah.
Memang saat itu nama Yaman belum ada, namun yang pasti bangsa ini
pernah ditaklukkan raja Kristen itu, dengan kata lain menguasai wilayah Sana’a
setelah jatuhnya rezim Zu Nawas, seorang raja Yahudi yang sangat keras menindas
kaum Kristen. Konon, nama Yaman berasal dari kata Youmi (bahasa ibrani) yang
artinya bahagia, sebagaimana para pakar sejarah dari Eropa menyebutnya dengan
“Yemen Felix”, selain itu dijelaskan pula pada literatur kuno, kata Yaman
diambil dari bahasa arab yang artinya kanan, hal ni merupakan penjelasan
tentang wilayah Yaman yang letak geografisnya tepat di sebelah kanan ka’bah.
Dalam suatu kesempatan, Rasul pernah memuji negeri ini, bahkan mengutus salah
seorang sahabatnya terbaiknya untuk berdakwah di wilayah ini.
Perlu diketahui juga, bahwa sebelum peristiwa penyerangan ka’bah
atau yang lebih dikenal dengan sebutan “tahun gajah” itu (terjadi sekitar tahun
550 M), negeri Saba’ ini telah dihuni oleh ratu Bilqis yang pernah dipinang
oleh Nabi Sulaiman as, dan sampai saat ini bekas kerajaan penyembah matahari
ini masih bisa kita jumpai puing-puingnya, yaitu di daerah Ma’rib. Selain itu
juga, berabad-abad sebelumnya negeri ini telah ditempati kaum yang bertubuh
raksasa, yakni Nabi Hud as dengan kaumnya yang bernama kaum ‘Ad (hal ini
dijelaskan dalam AlQuran). Makam orang yang pertama kali berbicara bahasa arab
denganfushah (dialek
resmi) itu terdapat di perbatasan Yaman-Oman atau sekitar 30 KM dari Propinsi
Hadramout. Maka tidak mengherankan, jika ketiga tempat bersejarah itu
(disamping tempat-tempat lain tentunya) ramai dikunjungi wisatawan ataupun penziarah, baik dalam maupun luar
negeri.
Negeri Ilmu Agama
Sejak masa Rasul SAW hingga saat ini, Yaman masih melahirkan
tokoh-tokoh penting Islam, diantaranya ilmuan dari berbagai bidang, pakar fiqh mujtahid madhabi, sastrawan dan penyair.
Hal itu terus berlangsung secara continue,
sehingga tidak pernah terjadi kevakuman. Faktor inilah yang mendorong begitu
besarnya animo masyarakat Indonesia untuk menimba ilmu di negeri “sumber ilmu”
ini, dengan konsekwensi tidak meninggalkan aspek lain, seperti faktor
lingkungan dan finansial (biaya hidup) yang mendukung. Hal ini bisa diketahui
dari besarnya jumlah pelajar dan mahasiswa Indonesia yang belajar di Yaman
sejumlah sekitar 1300 orang lebih, dalam lingkup kawasan timur tengah merupakan
angka terbesar kedua setelah Mesir. Fakta ini semakin dikukuhkan dengan
peningkatan jumlah pelajar sebesar 30% tiap tahunnya sejak dasawarsa terakhir,
dan ditambah prosentase “kepulangan” yang sangat rendah. Data ini mengacu pada
data terakhir yang ada di Persatuan Pelajar Indonesia di Yaman
(PPI-Yaman) sebagai organisasi induk pelajar dan mahasiswa Indonesia di seluruh
Yaman.
Para pelajar dan mahasiswa tersebut, saat ini sedang study di
berbagai lembaga pendidikan di Yaman yang tersebar di lima propinsi dari dua puluh
dua propinsi yang ada (silakan baca tulisan saya, “Study & Tour in
Yemen).
Kalau anda pernah mendengar dammaj darul hadist, ialah sebuah
perguruan yang berkategori “langka plus aneh”. Mengapa penulis menyebutnya
demikian? Karena selain diri di daerah ilegal -untuk mengganti istilah gerakan sparatis anti pemerintah Yaman, yang
tentunya tidak diakui oleh pemerintah setempat disebabkan tidak
memiliki residence(izin tinggal) dan bertentangan dengan aparat
pemerintah, lembaga yang dihuni sekitar 130 warga indonesia ini, juga
mengajarkan ajaran Islam yang bisa dikatakan radikal. Diantara ajaran itu
adalah : anti terhadap segala macam yang berhubungan dengan pemerintahan dan
organisasi, serta mudah mendoktrin sesat hingga mengkafirkan seseorang atau
kelompok yang tidak sepaham dengan mereka. Bahkan alumninya pun bisa divonis
seperti itu, jika terbukti –versi mereka “menyimpang”. Fakta yang
mendukung hal ini adalah, Ja’far Umar Thalib yang pernah belajar bersama mereka
dianggap “dholal” (baca sesat), karena menurut mereka sudah tidak sealur
dengan mereka, dikarenakan memilik jaringan dengan pemerintah.
Harapan penulis, dari apa yang sudah dipaparkan diatas terhadap
warga Indonesia untuk tidak mudah menilai pelajar product Yaman
seperti halnya Ja’far Umar Thalib yang terkenal dengan radikalnya, karena
beliau hanya sosok individu yang tidak bisa dikatakan mewakili warga Indonesia,
yang saat ini sedang belajar di Yaman, selain itu juga penulis berani memberi asumsi bahwa
alumni Yaman mampu bersaing dengan Pelajar lainnnya dengan melihat kualitas
pendidikan yang ada.
Sekapur sirih tentang Tareem, Hadhramaut
Bagi anda
“pemerhati” merk sarung, atau siapapun yang concern terhadap “identitas” kaum santri tradisional itu, ada kemungkinan
anda pernah melihat sarung bermerk Tareem. Akan tetapi pernahkah anda sangka,
bahwa itu adalah sebuah nama kota kecil, yang terletak di sebelah selatan
Yaman, dekat perbatasan Yaman-Oman, kurang lebih 35 KM.
Dalam
sejarah purbakala diterangkan, bahwa Tareem berdiri sejak 13 abad SM, dan
wilayah ini termasuk daerah kekuasaan kerajaan Saba ’ (pimpinan Ratu Bilqis).
Adapun menurut onomatologi dijelasakan, bahwa nama Tareem diambil dari nama
putra Hadromaut. Sedangkan yang dimaksud dengan Hadromaut sendiri ada dua
versi. Adalah Saleh al Hamed Sejarawan Yaman, beliau berargumen bahwa nama
tersebut adalah nama salah satu Raja Dinasti Bani Himyar. Berbeda dengan
Sejarawan Yaman lainnya, Sayyid Muhammad as Shatiry, berapologi bahwa Hadromaut
adalah salah satu anak Qahtan bin Amr bin Shalekh bin Ar Khased bin Sam
bin Nuh. 0
Perlu
pembaca ketahui, bahwa Hadromaut juga diabadikan sebagai salah satu namamuhafadzhah (propinsi.red) di Yaman, meskipun sebenarnya berbeda pendapat
diantara Sejarawan tentang awal mula berdirinya Yaman dengan Hadromaut.
Wal hasil
Tareem, selanjutnya ditulis Tarim-menggunakan ejaan Indonesia, dan Hadromaut adalah laksana dua sisi mata uang yang tidak dapat
dipisahkan. Karena qalbu (hati)nya Hadromaut adalah Tarim. Bahkan, bila ‘Ulama maupun
Sejarawan di berbagai negara menyebutkan Hadromaut, yang dimaksud adalah Tarim.
Walhasil, Tarim memang identik dengan Haromaut, begitu pula sebaliknya.
Secara
geografis, kota ini terletak di dataran rendah (baca: lembah) yang dikelilingi
bukit pasir berbatu. Hal ini disinyalir,yang menjadikan daerah ini juga
dikenal dengan wadi (lembah) Al
Ahgaff. Al Ahgaff adalah
bentuk plural dari hagf, yang
berarti bukit pasir tinggi.
Dipengaruhi
faktor geografis yang demikian, maka berdampak pada iklimnya, wilayah ini
merupakan daerah panas. Namun hawa akan berbalik tatkala angin dingin berhembus
dari Eropa. Temperatur rata-rata pada bulan Juli adalah 37’C dan pada Desember
20’C. Temperatur maximum bisa mencapai 47’C pada bulan Juni dan batas minimum
hingga 2’C pada bulan Desember. Dengan demikian, bisa diklasifikasikan menjadi
dua musim, syita’(dingin)
dan shoif ( panas).
Tidak
bebeda dengan lembah-lembah di sekitarnya, kawasan ini sangat jarang merasakan
indahnya rintikan hujan. Hujan akan turun 2-3 kali dalam setahun, dan
biasanya menandakan pergantian musim. Anehnya, walaupaun langka hujan, ditambah
tidak ditemukannnya aliran sungai, bumi Tarim tidaklah tandus, bahkan sangat
subur penuh dengan hijau-hijauan layaknya panorama di pedesaan Indonesia,
inilah yang biasa kita sebut dengan oais. Patut dicatat pula, bahwa kondisi ini bisa terjadi, tidak lain
karena didukung melimpahnya suplai sumber mata air di wilayah ini. Konon
“keajaiban” tersebut termasuk diantara do’a Sayyidina Abu Bakar untuk
masyarakat Tarim, yang memang pada saat itu sudah tersohor rajin mengeluarkan
zakat.
Pusat
ilmu dan penyebaran Islam
Sebuah
nisbi atau bahkan mustahil, jika berbicara tentang sejarah Hadromaut, Tarim
khususnya, bila melupakan seorang tokoh yang punya andil besar dalam
“pembangunan” kota Tarim. Beliau adalah Imam besar al Muhajir, salah seorang kibarul (pembesar)
Ulama dari keturunan ke-9 Rosul yang meninggalkan kota Basrah (Irak) dan
menetap di Hadromaut. Makam beliau terletak di daerah Khusaisah (4 KM dari
Tarim).
Telah
dijelaskan di berbagai kitab klasik, diantaranya di “Qilada tunnahri fii wafayaat a’yaa naddahri” karya Muhammad Thoyyib Abu Mahramah mengatakan, bahwa ketika imam
al Muhajir sampai ke Hadromaut, mereka (pendududuk Hadromaut) mengakui
keagungan imam al Muhajir serta kemuliaannya dan di Tarim kala itu tidak kurang
dari 300 mufti (pemberi fatwa).
Maka
tidak mengherankan, jika pada saat itu, tepatnya mulai tahun 461 H, Tarim al Ghana(yang subur), semakin semarak dan bersinar denagn cahaya ilmu,
bertambah keberkahan, kemuliaan serta keutamaannya, sehingga banyak didatangi
oleh tullabul
ilmi (pelajar)
dari berbagai penjuru dunia, ataupun orang yang datang sekedar berziarah untuk
memperoleh berkah.
Sehingga
muncul sebuah “pengakuan”, dari berbagai kalangan akademis, Tarim dikenal
sebagai tempat tinggal as
Sadatul A’lawiyyin, ribuan Ulama yang lahir ataupun datang menimba ilmu di kota ini,
yang pada akhirnya ilmu mereka tersebar ke seluruh belahan dunia, sampai detik
ini.
Selain
sebagai pusat ilmu agama, Tarim sejak dahulu merupakan pusat penyebaran Islam.
Pakar sejarah Islam berargument demikian, karena melalui perantau yang berasal
dari kota ini pada khususnya-dan tentunya Hadromaut pada umumnya,
Islam dapat menyebar hingga Timur Asia; India, Indonesia, Malaysia, Brunai,
Filiphina, juga belahan Afrika; Kongo, Somalia, Habasyah (Euthopia) dan Sudan.
Meskipun
pada umumnya sebagian dari mereka berekspedisi untuk berdagang, namun mereka menjadikannnya sebagai media untuk
meyebarkan Islam. Menanggapi hal ini, Imam Ahmad bin Hasan Al Athas menyebutkan
-dengan menukil dari generasi ke generasi, bahwa sebagian Ulama Tarim telah berhijrah sejak lebih dari 1000
tahun lalu.
Dengan
demikian, di berbagai Negara seantero dunia terdapat ratusan ibu Hadharim
(baca:
keturunan Hadromaut -bentuk prularnya. red) yang bermukim, yang selanjutnya
menjadi warga Negara di negaranya masing-masing, tak ketinggalan pula tanah air
kita tercinta Indonesia.
Menurut
hipotesa Duta besar RI untuk Yaman, di Indonesia terdapat tidak kurang dari 10
juta Hadharim, yang terdiri atas ratusan marga. Jumlah ini diyakini lebih besar
, bila dibandingkan Hadharim yang berdomisili di Yaman.
Kiranya
perlu kita ketahui juga, bahwa mengenai perihal proses penyebaran Islam di
Nusantara, bagi penulis ada subtansi yang perlu “diluruskan”. Ketika belajar
sejarah (baik saat SMP maupun SMA), disitu dijelaskan dengan sangat jelas, bahwa
Islam masuk ke Hindia Belanda datang langsung dari Gujarat ( India) dan Persia.
Hal ini tidak beda dengan “politik anti arab” nya pemerintah kolonial Belanda.
Klaim
tersebut telah dikoreksi melalui beberapa seminar di Medan (1963), Minagkabau
(1969), Riau (1963), Minagkabau (1969), Riau (19750, Aceh (1978 dan 1980) serta
di Palembang (1984), dengan menegaskan bahwa Islam di Indonesia datang secara
langsung dari Arab. Walaupun emikian, tidak dapat dipungkiri kemungkinan
sebelum ke Indonesia mereka terlebih dulu singgah di Gujarat . Mengingat
pelayaran dengan kapal layar harus transit di berbagai tempat.
Dr. Qadri
Azizi MA, Dirjen Bagais, dalam kunjungannya ke Tarim, 28 Februari 2003,
beranalisa bahwa jika Islam datang dari India, maka madzhab muslimin Indonesia
akan ikut Hanafiyah -sebagaimana madzhab muslimin di India. Namun faktanya mereka
adalah pengikut Syafi’iyyah, madzhab masyarakat Tarim (Hadromaut).
Pada
1884-1886, Prof LWC van Den Berg, Islamolog Belanda mengadakan riset
tentang “Hadromaut dan Koloni Arab di Nusatara”. Dia secara khusus menyorot
saat banyaknya imigran Hadromaut berdatangan. Ahli hukum Belanda itu
berpendapat , para keturunan Arab di Indonesia dapat cepat membaur dengan
pribumi-sebab mereka memang bukan penjajah.Menurutnya sebelum 1859 tidak
tersedia data yang jelas mengenai jumlah orang Arab yang bermukim di Hindia
Belanda. Di dalam catatan statistik resmi, mereka dirancukan dengan orang
Bangladesh, India dan orang asing lainnya yang beragama Islam.
Peneliti
tadi menyimpulkan, mereka mulai datang secara massal dengan menggunakan kapal
uap ke Hindia Belanda pada tahun-tahun terakhir abad-18. Perhentian pertama
mereka adalah Aceh. Dari sini dapat kita singkron kan dengan ditemukannnya batu nisan Syeikh Kuala yang
seorang Hadromi (keturunan Hadromaut-bentuk tunggalnya.red) Sekedar informasi
saja, ada salah seorang teman penulis yang berasal dari Serambi Mekah
mengatakan, bahwa makam salah seorang pembawa Islam ke Nusantara ini,
selamat dari ganasnya tsunami di Banda Aceh. Padahal sebagaimana kita ketahui,
secara teori maupun logika, jelas makam tersebut akan hanyut, namun yang
terjadi kain penutup makam tersebut masih bersih alias tidak
ditemukan bekas air. Subhanallah Maha Suci Engkau ya Allah atas keagunganMu.
Kembali
ke pokok bahasan, selanjutnya mereka menyebar ke Palembang dan Pontinak.Hadharim mulai banyak menetap di pulau Jawa pada 1820, sedangkan di
Indonesia bagian timur pada 1870.
Dalam
kaitannya penyebaran Islam di tanah Jawa, tentu kita tidak dapat melupakan jasa
Walisanga. Namun sayangnya, tidak sedikit dari kita yang belum tahu, bahwa
Sunan Ampel (sesepuh Walisanga) masih memilki hubungan darah dari Syeikh Faqih
Muqaddam seorang Ulama besar keturunan ke-7 Imam al Muhajir.
Ada
fenomena yang menarik untuk dikemukakan disini, jika sebelumnya para Hadharimhijrah (baca:berpergian) dari kota tua ini, kini orang Indonesia
mulai berdatangan ke Tarim untuk menuntut ilmu. Hal ini dimulai dari
paruh pertama abad XIII H hingga sekarang. Walaupun sempat mengalami ke vakum an,
selama 20 tahun (1970-1990), saat dijajah komunis. Toh akhirnya dapat eksis
kembali, karena setelah bersatunya Yaman Utara dan Selatan -maksudnya
merdeka , semakin
banyak masyarakat Indonesia yang berdatangan ke Tarim untuk study. Mereka
menyebar di empat lembaga pendididkan yang ada di Tarim, dengan sistem dan
metode yang berbeda.
Nuansa
koloni Indonesia di Tarim memang nampak jelas dengan banyaknya pelajar Indonesia
yang mencapai urutan pertama di masing-masing perguruannnya. Lihat saja
Rubath, di asrama perguruan Islam berumur 120 tahun ini, terdapat sekitar 150
pelajar Indonesia, untuk urutan di bawahnya dipegang pelajar dari Malaysia,
Singapura, Saudi Arabia, dan sebagian negara Afrika. Mereka mempelajari
berbagai macam disiplin ilmu agama (dengan spesifikasi fiqih) dibawah asuhan al
‘Allamah Habib Salim as Shatiry. Siswa belajar sesuai dengan jenjangnya
layaknya di pesantren kuno di Indonesia. Untuk dapat mempelajari semua materi
yang diajarkan disini, santri dituntut untuk sabar menempuhnya selama 6-8
tahun.
Begitu
juga di Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Al Ahgaff. Jumlah terbesar
mahasiswa nya sekarang dipegang Indonesia . Lebih dari 150 orang atau 60 %
mahasiswa nya berasal dari bumi Nusantara. Di fakultas yang jauh dari induknya
ini, mereka mengkaji berbagai macam ilmu agama dan hukum selama 5 tahun.
Walaupun terkadang mahasiswa harus siap menanggung sanksi berupa denda karena
“kegagalan” studynya, mahasiswa tetap konsisten dalam studynya.
Yang
paling menarik adalah Dar al Musthafa. Di pesantren “ala modern” ini , sekitar
250 pelajar Indonesia -begitu juga dengan pelajar lainnya, bisa
menikmati fasilitas yang lumayan “wah”. Disamping itu juga, perguruan yang
mengedepankan basis dakwahnya ini, terdapat pelajar dari multi benua, yaitu:
Asia, Afrika, Eropa, Australia dan Amerika.
Perguruan
yang satu ini, didirikan tidak lama setelah berdirinya Fakultas Syariah &
Hukum, yaitu pada tahun 1995. Dengan diasuh Al ‘Allamah Habib Umar bin Hafidz ,
seorang da’i yang sering melakukan dakwah ke belahan dunia ini, wajar saja bila
perguruan ini berkembang pesat, bahkan pernah menyelenggarakan Simposium ‘Ulama
Internasional pada 27 Februari-1 Maret 2003.
Masih ada
satu lagi perguruan di Tarim yang juga didatangi pelajar asing. Perguruan ini
berbeda dengan ketiga lembaga pendidikan lainnya. Perguruan ini ditempati kaum
hawa, sedangkan ketiga perguruan lainnnya dihuni kaum adam Darur Zahra -nama
perguruan ini, adalah cabang dari Dar al Musthafa. Disitu terdapat puluhan
pelajar putri dari Indonesia.
Kondisi
Masyarakat Tarim Sekarang
Tarim
merupakan kota yang padat penduduknya, namun bukan berarti kondisi
perekonomiannya lemah. Telah dijelaskan di atas, bahwa masyarakat Tarim sejak
dahulu kala sudah gemar merantau. “Kebiasaan” ini berlangsung hingga sekarang.
Mayoritas dari mereka bergelut di dunia dagang, setelah mereka sukses biasanya
sebagian dari mereka pulang ke kampung halaman, untuk kemudian membangun daerahnya.
Adapun bisnisnya digantikan kerabat mereka.
Profesi
masyarakat yang berdomisili di Tarim pun “hanya” berkisar diantara dagang dan
tani, namun anehnya seakan-akan strata perekonomian mereka sejajar. Aktifitas
mereka (baik dagang maupun tani) dimulai dari pukul 8.00-12.30. Setelah makan
siang, mereka melakukan istirahat siang hingga pukul 16.00, baru memulai
aktifitasnya kembali, yang kemudian jeda maghrib dan selanjutnya segala
aktifitas akan berakhir -misalnya toko ditutup pukul 20.00, maka otomatis
kota ini bagaikan “ kota mati”. Karena pada saat itu ,tidak kita temukan lalu
lalang manusia -sebagaimana di tanah air. Namun, pemandangan seperti ini akan berubah total ketika bulan
ramadhan.
Kota ini
memiliki berbagai macam ciri khas yang tidak dimiliki -apalagi ditemukan, oleh kota manapun di muka
bumi ini. Sungguh ini bukan bombastis belaka. Bila anda dikarunia rizki dapat berkunjung ke Tarim, maka
dijamin anda akan kagum dengan “keajaibannya”.
Di kota
nenek moyang Walisanga ini, terdapat pemakaman tua bernama Zambal. Kuburan ini
sejak berabad-abad lalu telah dihuni lebih dari 8.000 jenazah, yang
keseluruh jenazah itu adalah keturunan Rasul (baca: Sayyid dan Syarifah). Dan
terdapat belasan sahabat (badar) yang pernah diutus ke Yaman.
Bangunan-bangunan
di kota inipun penuh dengan nilai arsitektur dan seni, yang lebih menghebohkan
lagi adalah, mereka membangun apartement tanpa menggunakan bahan-bahan material
layaknya sebuah bangunan beton yang kokoh. Mereka cukup menggunakan bahan
Baku
berupa tanah liat dan kayu-kayu plus sedikit batu, namun dapat membentuk
apartement hingga lantai lima. Di kota ini pula terdapat menara masjid terbuat
dari tanah yang tingginya mencapai 45 M. Tidak bisa dipungkiri bahwa
‘keistimewaan” ini yang menjadikan daya tarik bagi Turis -dari berbagai
manca negara yang datang hampir tiap hari, yang sekedar
berekreasi un tuk melihat lima Qashr (istana kecil) yang berumur lebih dari 2
abad dan sebuah musium, maupun mengadakan riset dalam bidang arsitektur.
Mungkin
ini salah satu “kelihaian” mereka dalam mengkalkulasi. Mereka tidak
khawatir akan terjadinya hujan deras maupun banjir banding yang akan merobohkan
gedung-gedung tanah mereka. Karena -sekali lagi telah dijelaskan diatas,
hal ini sangat kecil kemungkinan terjadinya.
Ternyata
di balik itu, mereka melakukan ini (membangun bangunan dengan tanah liat) guna
menyiasati dua musim, saat musim dingin mereka tidak terlalu merasakan dingin,
begitu pula saat musim panas.
Kota yang
luasnya lebih kecil dari kecamatan di Indonesia ini, terdapat lebih dari 300
masjid, (meskipun rata-rata luas masjid itu 20x M) dan kesemua masjid itu
terdapat alat pendingin. Disamping itu pula, tiap 1 KM dari ruas jalan, hampir
bisa dipastikan terdapat alat serupa. Dengan demikian, yang membedakan masyarakat
kita dengan masyarakat Tarim diantaranya minuman mereka tidak dimasak. Mungkin
mereka tidak “menyadari” -atau memang tidak menghiraukan- bahwa air yang
mereka konsumsi mengandung zat kapur (karena terletak di sekitar gunung
bebatuan) yang membahayakan kesehatan tubuh mereka.
Selain
empat perguruan tersebut di atas, juga masih terdapat perguruan Hifdhul Qur’an,sebuah lembaga untuk proses
kegiatan menghafal al Qur’an. Maka sudah menjadi hal yang biasa, jika banyak
anak-anak kecil di Tarim sudah khafidz (baca: hafal Al Qur’an 30 juz).
Tidak
jarang kita dapati mainan anak kecil masyarakat Tarim sama dengan anak-anak
kecil masyarakat Jawa seperti: gupak
sodor, jitung ngumpet, plek-plek
brok dll.
Pakaian keseharian mereka pun sarung -mengingat pakaian adat orang Arab
adalah gamis. Hal ini jelas semakin menguatkan argumen penulis di atas.
Jika ada
pihak yang ingin melakukan riset terhadap “hubungan historis Hadromaut dengan
Nusantara”, di kota ini terdapat perpustakaan yang menyimpan beribu-ribu
manuskrip -dari berbagai displin ilmu.
Ada satu
hal lagi yang menjadi semacam “identitas” Tarim adalah, tiap harinya bisa
dipastikan selalu ada saja pengumuman orang meninggal dunia. Namun bukan lantas
masyarakat Tarim selalu ada yang mati. Akan tetapi orang meninggal yang
dimaksud bisa berasal dari luar negeri yang memang mempunyai famili di Tarim.
Penulis
H. Syukron – penulis adalah mahasiswa di Yemenia University,
Sana’a
Tidak ada komentar:
Posting Komentar