Selasa, 19 November 2013



YAMAN

Sebagian dari pembaca mungkin belum mengenal nama salah satu negara di jazirah Arab ini. Penilaian seperti ini bukannya tanpa dasar, karena berdasarkan survey (non formal) yang pernah dilakukan kawan-kawan mahasiswa saat chatting, dari 100 % netter yang umumnya adalah kawula muda ini, 50%nya tidak mengenal negara berpenduduk sekitar 22 juta jiwa ini. “Jangankan mengenal, tahu saja tidak?!,” kata salah seorang teman saya menjelaskan hasil penelitian itu. Untuk sisanya pernah dengar, akan tetapi tidak sedikit yang berkomentar dengan nada sinis (sebagaimana yang dituturkan sahabat saya yang lain) “O….negara berbau teroris itu ya?”, ada juga yang berseronok begini “Yang saya tahu dari Yaman adalah negara serba terbelakang!!”. Dan tentunya masih banyak lagi cemoohan  lain yang esensi dari semua itu adalah nada-nada negatif terhadap Yaman.

Contoh kasus lain yang saya alami dan juga kawan-kawan, saat masih di tanah air atau tepatnya  saat menjelang berangkat study ke negara miskin di kawasan timur tengah ini. Kejadian itu terjadi saat kami sedang mengurus administrasi seperti passport, medical dan surat-surat yang lain. Tidak jarang petugas yang menangani keadministrasian itu “wanti-wanti” kepada kami, kelak jika sudah pulang hendaknya jangan menjadi bagian dari Islam radikal (baca: Islam garis keras) bahkan teroris. Dan masih seabreg kasus serupa yang membualkan.

Gambaran di atas memang belum bisa dikatakan mewakili persepsi masyarakat Indonesia, namun menurut penulis setidak-tidaknya bisa mencerminkan pandangan masyarakat kita, yang notabene  memberikan image tidak baik terhadap Yaman. Akan tetapi lain bahasannya kalau kita menyimak respon kalangan pesantren, bisa dipastikan mereka mengetahui kondisi Yaman yang dari dahulu memang populer dengan keilmuannya. 
Sekarang persoalannya kenapa masyarakat Indonesia pernah memberi image teroris kepada Yaman, atau memang identikkah negara ini dengan sebutan itu? Jawabannya, Nonsen!!…Hal ini bisa terjadi “mungkin” karena kebetulan Osama bin Laden yang dicap biang kerok teroris oleh Amerika adalah lahir di Yaman. Begitu juga dengan Abu Bakar Ba’asyir yang dituduh mempunyai jaringan Jam’iyyah Islamiyyah ini, adalah masih keturunan Yaman. Dan tentunya kita masih ingat nama Ja’far Umar Thalib pendiri sekaligus pembubar Laskar Jihad itu, pernah belajar di negeri “ibukota kebudayaan arab” ini, lantas negeri pusat penyebaran Islam di semenanjung Arab ini, dikaitkan dengan teroris, jelas tidak relevan!! 
Bagi penulis, memberi kesan seperti itu adalah penjustifikasian yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Kita semua tahu bahwa Yaman bukanlah milik individual, dan kiranya perlu saya “tandaskan” bahwa negeri ini, sampai sekarang masih dalam tahap membangun (kalau tidak boleh dikatakan negara miskin) yang belum lama merdeka. Dan yang lebih terpenting dari itu semua adalah, bahwa Yaman adalah “gudang cendekiawan” yang ikut mencerdaskan dunia, temasuk negara kitaIndonesia.
Negeri yang sebenarnya kaya dengan tambang minyaknya ini, sebelum 17 tahun yang lalu terbagi menjadi dua negara, yaitu: Yaman Selatan yang beribukota di Aden dan Yaman utara yang beribukota Sana’a. Tepatnya pada tahun 1995 dua negara ini bersatu dan sepakat untuk mendirikan pusat pemerintahan di Sana’a hingga sekarang. 
Sebelum Yaman Selatan menggabungkan diri, bangsa ini sempat dijajah Rusia yang berfaham komunis yang imbasnya sangat menyengsarakan rakyat jajahannya. Padahal sebelum dikuasai kaum komunis, negeri ini “dipimpin” Inggris yang dampaknya memberi “kemakmuran” meskipun belum bisa dikatakan sejahtera. Hal ini bisa dilihat dari menjamurnya pabrik-pabrik besar dan banyaknya kapal pesiar untuk kegiatan export-import di daerah Aden pada saat itu, begitu juga dengan ditandai dengan melangitnya kurs mata uang dinar daripada U$. Akan tetapi, setelah pindah kekuasaan ke negara pecahan  Soviet itu, semuanya lenyap tanpa bekas. Tragis juga memang!! Bagaimana tidak?? pabrik-pabrik itu diluluh-lantahkan dengan tanah.Ada satu hal yang menarik yang perlu penulis singgung , negara tetangganya yaitu Yaman Utara, saat itu bebas dari gangguan penjajah. Setelah sebelumnya merebut kekuasaan dari Kerajaan Imam Yahya.
Sekarang setelah memproklamirkan diri untuk bersatu, ternyata warga Yaman Selatan sampai saat ini masih menampakkan rasa kurang simpatinya terhadap warga syimali (Utara-Bhs.Arab)-walaupun  masih banyak orang-orang Yaman Selatan menerima hal  ini dengan alasan kedamaian antar kabilah (baca suku), karena porsi pemerintahan didominasi oleh orang-orang dari wilayah ini. Selain  itu, tengok saja Presiden Republik Yaman berasal dari dari Yaman utara yang layaknya pemegang kekuasan tertinggi plus mutlak. Padahal menurut sistem pemerintahan negara itu, terdiri dari tiga lembaga politik, diantaranya Wapres (Putra Yaman Selatan), dan  Majlis Nuwwab (MPR-nya Yaman). Anehnya ketiga lembaga itu dipersempit ruang geraknya oleh sang Presiden yang memiliki masa jabatan 7 (tujuh) tahun ini. Jadi seperti yang terjadi di Indonesia saat dipegang rezim ORBA, malahan sudah tersebar kabar, setelah mengakhiri masa jabatannya sebagai penguasa nanti, Dia akan diganti anaknya. Hal inilah yang menurut sebagian rakyat Yaman menjadikan negaranya masih tertinggal jauh dari bangsa Arab yang lain, disamping disebabkan faktor masih terjadinya perang antar suku dengan pemerintah seperti halnya yang terjadi di Ma’rib, ditambah sikap anti AS untuk mengintervensi negaranya dalam segala bidang, berbeda dengan Oman, Kuwait, Arab Saudi dan negara Arab lainnya, dikarenakan salah satu faktor, campur tangan negara adidaya itu. Memang untuk masalah hukum baik perdata maupun pidana, dalam hal ini diatur dalam undang-undang, Hukum Yaman menempati posisi pertama di Liga Arab karena notabene hukum yang tercantum dalam undang-undang “disadur” dari syariat Islam. Akan tetapi hal ini belum menjamin, karena sebagaimana kita ketahui selama ini Indonesia juga memiliki undang-undang yang dibentuk oleh DPR yang nggak kalah bagusnya!! Mana hasilnya?? Maka semua itu tergantung pada prakteknya, begitu juga dengan negara Yaman yang jelas-jelas negara Islam.. 
Yemen (ejaan Inggris) ikut andil dalam sejarah hadirnya agama Islam, hal ini bisa diketahui dengan adanya katedral Nasrani yang diberi nama Qalis. Gereja ini dibangun oleh raja Abraha seorang Gubernur dari Habasyah (Ethopia.red) untuk menandingi ka’bah.
Memang saat itu nama Yaman belum ada, namun yang pasti bangsa ini pernah ditaklukkan raja Kristen itu, dengan kata lain menguasai wilayah Sana’a setelah jatuhnya rezim Zu Nawas, seorang raja Yahudi yang sangat keras menindas kaum Kristen. Konon, nama Yaman berasal dari kata Youmi (bahasa ibrani) yang artinya bahagia, sebagaimana para pakar sejarah dari Eropa menyebutnya dengan “Yemen Felix”, selain itu dijelaskan pula pada literatur kuno, kata Yaman diambil dari bahasa arab yang artinya kanan, hal ni merupakan penjelasan tentang wilayah Yaman yang letak geografisnya tepat di sebelah kanan ka’bah. Dalam suatu kesempatan, Rasul pernah memuji negeri ini, bahkan mengutus salah seorang sahabatnya terbaiknya untuk berdakwah di wilayah ini.

Perlu diketahui juga, bahwa sebelum peristiwa penyerangan ka’bah atau yang lebih dikenal dengan sebutan “tahun gajah” itu (terjadi sekitar tahun 550 M), negeri Saba’ ini telah dihuni oleh ratu Bilqis yang pernah dipinang oleh Nabi Sulaiman as, dan sampai saat ini bekas kerajaan penyembah matahari ini masih bisa kita jumpai puing-puingnya, yaitu di daerah Ma’rib. Selain itu juga, berabad-abad sebelumnya negeri ini telah ditempati kaum yang bertubuh raksasa, yakni Nabi Hud as dengan kaumnya yang bernama kaum ‘Ad (hal ini dijelaskan dalam AlQuran). Makam orang yang pertama kali berbicara bahasa arab denganfushah (dialek resmi) itu terdapat di perbatasan Yaman-Oman atau sekitar 30 KM dari Propinsi Hadramout. Maka tidak mengherankan, jika ketiga tempat bersejarah itu (disamping tempat-tempat lain tentunya) ramai dikunjungi wisatawan ataupun penziarah, baik dalam maupun luar negeri. 


Negeri Ilmu Agama

Sejak masa Rasul SAW hingga saat ini, Yaman masih melahirkan tokoh-tokoh penting Islam, diantaranya ilmuan dari berbagai bidang, pakar fiqh mujtahid madhabi, sastrawan dan penyair. Hal itu terus berlangsung secara continue, sehingga tidak pernah terjadi kevakuman. Faktor inilah yang mendorong begitu besarnya animo masyarakat Indonesia untuk menimba ilmu di negeri “sumber ilmu” ini, dengan konsekwensi tidak meninggalkan aspek lain, seperti faktor lingkungan dan finansial (biaya hidup) yang mendukung. Hal ini bisa diketahui dari besarnya jumlah pelajar dan mahasiswa Indonesia yang belajar di Yaman sejumlah sekitar 1300 orang lebih, dalam lingkup kawasan timur tengah merupakan angka terbesar kedua setelah Mesir. Fakta ini semakin dikukuhkan dengan peningkatan jumlah pelajar sebesar 30% tiap tahunnya sejak dasawarsa terakhir, dan ditambah prosentase “kepulangan” yang sangat rendah. Data ini mengacu pada data terakhir yang ada di Persatuan Pelajar Indonesia di Yaman (PPI-Yaman) sebagai organisasi induk pelajar dan mahasiswa Indonesia di seluruh Yaman. 
Para pelajar dan mahasiswa tersebut, saat ini sedang study di berbagai lembaga pendidikan di Yaman yang tersebar di lima propinsi dari dua puluh dua propinsi yang ada (silakan baca tulisan saya, “Study & Tour in Yemen).

Kalau anda pernah mendengar dammaj darul hadist, ialah sebuah perguruan yang berkategori “langka plus aneh”. Mengapa penulis menyebutnya demikian? Karena  selain diri di daerah ilegal -untuk mengganti istilah gerakan sparatis anti pemerintah Yaman, yang tentunya tidak diakui oleh pemerintah setempat disebabkan tidak memiliki residence(izin tinggal) dan bertentangan dengan aparat pemerintah, lembaga yang dihuni sekitar 130 warga indonesia ini, juga mengajarkan ajaran Islam yang bisa dikatakan radikal. Diantara ajaran itu adalah : anti terhadap segala macam yang berhubungan dengan pemerintahan dan organisasi, serta mudah mendoktrin sesat hingga mengkafirkan seseorang atau kelompok yang tidak sepaham dengan mereka. Bahkan alumninya pun bisa divonis seperti itu, jika terbukti –versi mereka  “menyimpang”. Fakta yang mendukung hal ini adalah, Ja’far Umar Thalib yang pernah belajar bersama mereka dianggap “dholal” (baca sesat), karena menurut mereka sudah tidak sealur dengan mereka, dikarenakan memilik jaringan dengan pemerintah.

Harapan penulis, dari apa yang sudah dipaparkan diatas terhadap warga Indonesia untuk tidak mudah menilai pelajar product Yaman seperti halnya Ja’far Umar Thalib yang terkenal dengan radikalnya, karena beliau hanya sosok individu yang tidak bisa dikatakan mewakili warga Indonesia, yang saat ini sedang belajar di Yaman, selain itu juga penulis berani memberi asumsi bahwa alumni Yaman mampu bersaing dengan Pelajar lainnnya dengan melihat kualitas pendidikan yang ada.

Sekapur sirih tentang Tareem, Hadhramaut
Bagi anda “pemerhati” merk sarung, atau siapapun yang concern terhadap “identitas” kaum santri tradisional itu, ada kemungkinan anda pernah melihat sarung bermerk Tareem. Akan tetapi pernahkah anda sangka, bahwa itu adalah sebuah nama kota kecil, yang terletak di sebelah selatan  Yaman, dekat perbatasan Yaman-Oman, kurang lebih 35 KM.
Dalam sejarah purbakala diterangkan, bahwa Tareem berdiri sejak 13 abad SM, dan wilayah ini termasuk daerah kekuasaan kerajaan Saba ’ (pimpinan Ratu Bilqis). Adapun menurut onomatologi dijelasakan, bahwa nama Tareem diambil dari nama putra Hadromaut. Sedangkan yang dimaksud dengan Hadromaut sendiri ada dua versi. Adalah Saleh al Hamed Sejarawan Yaman, beliau berargumen bahwa nama tersebut adalah nama salah satu Raja Dinasti Bani Himyar. Berbeda dengan Sejarawan Yaman lainnya, Sayyid Muhammad as Shatiry, berapologi bahwa Hadromaut adalah salah satu anak Qahtan bin Amr bin Shalekh bin Ar Khased bin Sam bin  Nuh. 0
Perlu pembaca ketahui, bahwa Hadromaut juga diabadikan sebagai salah satu namamuhafadzhah (propinsi.red) di Yaman, meskipun sebenarnya berbeda pendapat diantara Sejarawan tentang awal mula berdirinya Yaman dengan Hadromaut.
Wal hasil Tareem, selanjutnya ditulis Tarim-menggunakan ejaan Indonesia, dan Hadromaut adalah laksana dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Karena qalbu (hati)nya Hadromaut adalah Tarim. Bahkan, bila ‘Ulama maupun Sejarawan di berbagai negara menyebutkan Hadromaut, yang dimaksud adalah Tarim. Walhasil, Tarim memang identik dengan Haromaut, begitu pula sebaliknya.
Secara geografis, kota ini terletak di dataran rendah (baca: lembah) yang dikelilingi bukit  pasir berbatu. Hal ini disinyalir,yang menjadikan daerah ini juga dikenal dengan wadi (lembah) Al Ahgaff. Al Ahgaff adalah bentuk plural dari hagf, yang berarti bukit pasir tinggi.
Dipengaruhi faktor geografis yang demikian, maka berdampak pada iklimnya, wilayah ini merupakan daerah panas. Namun hawa akan berbalik tatkala angin dingin berhembus dari Eropa. Temperatur rata-rata pada bulan Juli adalah 37’C dan pada Desember 20’C. Temperatur maximum bisa mencapai 47’C pada bulan Juni dan batas minimum hingga 2’C pada bulan Desember. Dengan demikian, bisa diklasifikasikan menjadi dua musim, syita’(dingin) dan shoif ( panas).
Tidak bebeda dengan lembah-lembah di sekitarnya, kawasan ini sangat jarang merasakan indahnya rintikan hujan. Hujan  akan turun 2-3 kali dalam setahun, dan biasanya menandakan pergantian musim. Anehnya, walaupaun langka hujan, ditambah tidak ditemukannnya aliran sungai, bumi Tarim tidaklah tandus, bahkan sangat subur penuh dengan hijau-hijauan layaknya panorama di pedesaan Indonesia, inilah yang biasa kita sebut dengan oais. Patut dicatat pula, bahwa kondisi ini bisa terjadi, tidak lain karena didukung melimpahnya suplai sumber mata air di wilayah ini. Konon “keajaiban” tersebut termasuk diantara do’a Sayyidina Abu Bakar untuk masyarakat Tarim, yang memang pada saat itu sudah tersohor rajin mengeluarkan zakat.
Pusat ilmu dan penyebaran Islam
Sebuah nisbi atau bahkan mustahil, jika berbicara tentang sejarah Hadromaut, Tarim khususnya, bila melupakan seorang tokoh yang punya andil besar dalam “pembangunan” kota Tarim. Beliau adalah Imam besar al Muhajir, salah seorang kibarul (pembesar) Ulama dari keturunan ke-9 Rosul yang meninggalkan kota Basrah (Irak) dan menetap di Hadromaut. Makam beliau terletak di daerah Khusaisah (4 KM dari Tarim).
Telah dijelaskan di berbagai kitab klasik, diantaranya di “Qilada tunnahri fii wafayaat a’yaa naddahri” karya Muhammad Thoyyib Abu Mahramah mengatakan, bahwa ketika imam al Muhajir sampai ke Hadromaut, mereka (pendududuk Hadromaut) mengakui keagungan imam al Muhajir serta kemuliaannya dan di Tarim kala itu tidak kurang dari 300 mufti (pemberi fatwa).
Maka tidak mengherankan, jika pada saat itu, tepatnya mulai tahun 461 H, Tarim al Ghana(yang subur), semakin semarak dan bersinar denagn cahaya ilmu, bertambah keberkahan, kemuliaan serta keutamaannya, sehingga banyak didatangi oleh tullabul ilmi (pelajar) dari berbagai penjuru dunia, ataupun orang yang datang sekedar berziarah untuk memperoleh berkah.
Sehingga muncul sebuah “pengakuan”, dari berbagai kalangan akademis, Tarim dikenal sebagai tempat tinggal as Sadatul A’lawiyyin, ribuan Ulama yang lahir ataupun datang menimba ilmu di kota ini, yang pada akhirnya ilmu mereka tersebar ke seluruh belahan dunia, sampai detik ini.
Selain sebagai pusat ilmu agama, Tarim sejak dahulu merupakan pusat penyebaran Islam. Pakar sejarah Islam berargument demikian, karena melalui perantau yang berasal dari kota ini pada khususnya-dan tentunya Hadromaut  pada umumnya, Islam dapat menyebar hingga Timur Asia; India, Indonesia, Malaysia, Brunai, Filiphina, juga belahan Afrika; Kongo, Somalia, Habasyah (Euthopia) dan Sudan.
Meskipun pada umumnya sebagian dari mereka berekspedisi untuk berdagang, namun mereka menjadikannnya sebagai media untuk meyebarkan Islam. Menanggapi hal ini, Imam Ahmad bin Hasan Al Athas menyebutkan -dengan menukil dari generasi ke generasi, bahwa sebagian Ulama Tarim telah berhijrah sejak lebih dari 1000 tahun lalu.
Dengan demikian, di berbagai Negara seantero dunia terdapat ratusan ibu Hadharim
(baca: keturunan Hadromaut -bentuk prularnya. red) yang bermukim, yang selanjutnya menjadi warga Negara di negaranya masing-masing, tak ketinggalan pula tanah air kita tercinta Indonesia.
Menurut hipotesa Duta besar RI untuk Yaman, di Indonesia terdapat tidak kurang dari 10 juta Hadharim, yang terdiri atas ratusan marga. Jumlah ini diyakini lebih besar , bila dibandingkan Hadharim yang berdomisili di Yaman.
Kiranya perlu kita ketahui juga, bahwa mengenai perihal proses penyebaran Islam di Nusantara, bagi penulis ada subtansi yang perlu “diluruskan”. Ketika belajar sejarah (baik saat SMP maupun SMA), disitu dijelaskan dengan sangat jelas, bahwa Islam masuk ke Hindia Belanda datang langsung dari Gujarat ( India) dan Persia. Hal ini tidak beda dengan “politik anti arab” nya pemerintah kolonial Belanda.
Klaim tersebut telah dikoreksi melalui beberapa seminar di Medan (1963), Minagkabau (1969), Riau (1963), Minagkabau (1969), Riau (19750, Aceh (1978 dan 1980) serta di Palembang (1984), dengan menegaskan bahwa Islam di Indonesia datang secara langsung dari Arab. Walaupun emikian, tidak dapat dipungkiri kemungkinan sebelum ke Indonesia mereka terlebih dulu singgah di Gujarat . Mengingat pelayaran dengan kapal layar harus transit di berbagai tempat.
Dr. Qadri Azizi MA, Dirjen Bagais, dalam kunjungannya ke Tarim, 28 Februari 2003, beranalisa bahwa jika Islam datang dari India, maka madzhab muslimin Indonesia akan ikut  Hanafiyah  -sebagaimana madzhab muslimin di India. Namun faktanya mereka adalah pengikut Syafi’iyyah,  madzhab masyarakat Tarim (Hadromaut).
Pada 1884-1886, Prof LWC van Den Berg, Islamolog  Belanda mengadakan riset tentang “Hadromaut dan Koloni Arab di Nusatara”. Dia secara khusus menyorot saat banyaknya imigran Hadromaut berdatangan. Ahli hukum Belanda itu berpendapat , para keturunan Arab di Indonesia dapat cepat membaur dengan pribumi-sebab mereka memang bukan penjajah.Menurutnya sebelum 1859 tidak tersedia data yang jelas mengenai jumlah orang Arab yang bermukim di Hindia Belanda. Di dalam catatan statistik resmi, mereka dirancukan dengan orang Bangladesh, India dan orang asing lainnya yang beragama Islam.
Peneliti tadi menyimpulkan, mereka mulai datang secara massal dengan menggunakan kapal uap ke Hindia Belanda pada tahun-tahun terakhir abad-18. Perhentian pertama mereka adalah Aceh. Dari sini dapat kita singkron kan dengan ditemukannnya batu nisan Syeikh Kuala yang seorang  Hadromi (keturunan Hadromaut-bentuk tunggalnya.red) Sekedar informasi saja, ada salah seorang teman penulis yang berasal dari Serambi Mekah  mengatakan, bahwa makam salah seorang pembawa Islam  ke Nusantara ini, selamat dari ganasnya tsunami di Banda Aceh. Padahal sebagaimana kita ketahui, secara teori maupun logika, jelas makam tersebut akan hanyut, namun yang terjadi kain penutup makam tersebut masih bersih alias tidak ditemukan bekas air.  Subhanallah Maha Suci Engkau ya Allah atas keagunganMu.
Kembali ke pokok bahasan, selanjutnya mereka menyebar ke Palembang dan Pontinak.Hadharim mulai banyak menetap di pulau Jawa pada 1820, sedangkan di Indonesia bagian timur pada 1870.
Dalam kaitannya penyebaran Islam di tanah Jawa, tentu kita tidak dapat melupakan jasa Walisanga. Namun sayangnya, tidak sedikit dari kita yang belum tahu, bahwa Sunan Ampel (sesepuh Walisanga) masih memilki hubungan darah dari Syeikh Faqih Muqaddam seorang Ulama besar keturunan ke-7 Imam al Muhajir.
Ada fenomena yang menarik untuk dikemukakan disini, jika sebelumnya para Hadharimhijrah (baca:berpergian) dari kota tua ini, kini orang Indonesia mulai berdatangan ke Tarim untuk menuntut ilmu. Hal ini dimulai  dari paruh pertama abad XIII H hingga sekarang. Walaupun sempat mengalami ke vakum an, selama 20 tahun (1970-1990), saat dijajah komunis. Toh akhirnya dapat eksis kembali, karena setelah bersatunya Yaman Utara dan Selatan -maksudnya merdeka , semakin banyak masyarakat Indonesia yang berdatangan ke Tarim untuk study. Mereka menyebar di empat lembaga pendididkan yang ada di Tarim, dengan sistem dan metode yang berbeda.
Nuansa koloni Indonesia di Tarim memang nampak jelas dengan banyaknya pelajar Indonesia yang mencapai urutan pertama  di masing-masing perguruannnya. Lihat saja Rubath, di asrama perguruan Islam berumur 120 tahun ini, terdapat sekitar 150 pelajar Indonesia, untuk urutan di bawahnya dipegang pelajar dari Malaysia, Singapura, Saudi Arabia, dan sebagian negara Afrika. Mereka mempelajari berbagai macam disiplin ilmu agama (dengan spesifikasi fiqih) dibawah asuhan al ‘Allamah Habib Salim as Shatiry. Siswa belajar sesuai dengan jenjangnya layaknya di pesantren kuno di Indonesia. Untuk dapat mempelajari semua materi yang diajarkan disini, santri dituntut untuk sabar menempuhnya selama 6-8 tahun.
Begitu juga di Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Al Ahgaff. Jumlah terbesar mahasiswa nya sekarang dipegang Indonesia . Lebih dari 150 orang atau 60 % mahasiswa nya berasal dari bumi Nusantara. Di fakultas yang jauh dari induknya ini, mereka mengkaji berbagai macam ilmu agama dan hukum selama 5 tahun.  Walaupun terkadang mahasiswa harus siap menanggung sanksi berupa denda karena “kegagalan” studynya, mahasiswa tetap konsisten dalam studynya.    
Yang paling menarik adalah Dar al Musthafa. Di pesantren “ala modern” ini , sekitar 250 pelajar Indonesia -begitu juga dengan pelajar lainnya, bisa menikmati fasilitas yang lumayan “wah”. Disamping itu juga, perguruan yang mengedepankan basis dakwahnya ini, terdapat pelajar dari multi benua, yaitu: Asia, Afrika, Eropa, Australia dan Amerika.
Perguruan yang satu ini, didirikan tidak lama setelah berdirinya Fakultas Syariah & Hukum, yaitu pada tahun 1995. Dengan diasuh Al ‘Allamah Habib Umar bin Hafidz , seorang da’i yang sering melakukan dakwah ke belahan dunia ini, wajar saja bila perguruan ini berkembang pesat, bahkan pernah menyelenggarakan Simposium ‘Ulama Internasional pada 27 Februari-1 Maret 2003.
Masih ada satu lagi perguruan di Tarim yang juga didatangi pelajar asing. Perguruan ini berbeda dengan ketiga lembaga pendidikan lainnya. Perguruan ini ditempati kaum hawa, sedangkan ketiga perguruan lainnnya dihuni kaum adam  Darur Zahra -nama perguruan ini, adalah cabang dari Dar al Musthafa. Disitu terdapat puluhan pelajar putri dari Indonesia.
Kondisi Masyarakat Tarim Sekarang
Tarim merupakan kota yang padat penduduknya, namun bukan berarti kondisi perekonomiannya lemah. Telah dijelaskan di atas, bahwa masyarakat Tarim sejak dahulu kala sudah gemar merantau. “Kebiasaan” ini berlangsung hingga sekarang. Mayoritas dari mereka bergelut di dunia dagang, setelah mereka sukses biasanya sebagian dari mereka pulang ke kampung halaman, untuk kemudian membangun daerahnya. Adapun bisnisnya digantikan kerabat mereka.
Profesi masyarakat yang berdomisili di Tarim pun “hanya” berkisar diantara dagang dan tani, namun anehnya seakan-akan strata perekonomian mereka sejajar. Aktifitas mereka (baik dagang maupun tani) dimulai dari pukul 8.00-12.30. Setelah makan siang, mereka melakukan istirahat siang hingga pukul 16.00, baru memulai aktifitasnya kembali, yang kemudian jeda maghrib dan selanjutnya segala aktifitas akan berakhir -misalnya toko ditutup pukul 20.00, maka otomatis kota ini bagaikan “ kota mati”. Karena pada saat itu ,tidak kita temukan lalu lalang manusia -sebagaimana di tanah air. Namun, pemandangan seperti ini akan berubah total ketika bulan ramadhan.
Kota ini memiliki berbagai macam ciri khas yang tidak dimiliki -apalagi ditemukan, oleh kota manapun di muka bumi ini. Sungguh ini bukan bombastis belaka. Bila anda dikarunia rizki dapat berkunjung ke Tarim, maka dijamin anda akan kagum dengan “keajaibannya”.
Di kota nenek moyang Walisanga ini, terdapat pemakaman tua bernama Zambal. Kuburan ini sejak berabad-abad lalu telah  dihuni lebih dari 8.000 jenazah, yang keseluruh jenazah itu adalah keturunan Rasul (baca: Sayyid dan Syarifah). Dan terdapat belasan sahabat (badar) yang pernah diutus ke Yaman.
Bangunan-bangunan di kota inipun penuh dengan nilai arsitektur dan seni, yang lebih menghebohkan lagi adalah, mereka membangun apartement tanpa menggunakan bahan-bahan material layaknya sebuah bangunan beton yang kokoh. Mereka cukup menggunakan bahan
Baku berupa tanah liat dan kayu-kayu plus sedikit batu, namun dapat membentuk apartement hingga lantai lima. Di kota ini pula terdapat menara masjid terbuat dari tanah yang tingginya mencapai 45 M. Tidak bisa dipungkiri bahwa ‘keistimewaan” ini yang menjadikan daya tarik bagi Turis -dari berbagai manca negara yang datang hampir tiap hari, yang  sekedar  berekreasi un tuk melihat lima Qashr (istana kecil) yang berumur lebih dari 2 abad dan sebuah musium, maupun mengadakan riset dalam bidang arsitektur.
Mungkin ini salah satu “kelihaian” mereka dalam mengkalkulasi. Mereka tidak khawatir akan terjadinya hujan deras maupun banjir banding yang akan merobohkan gedung-gedung tanah mereka. Karena -sekali lagi telah dijelaskan diatas, hal ini sangat kecil kemungkinan terjadinya.
Ternyata di balik itu, mereka melakukan ini (membangun bangunan dengan tanah liat) guna menyiasati dua musim, saat musim dingin mereka tidak terlalu merasakan dingin, begitu pula saat musim panas.   
Kota yang luasnya lebih kecil dari kecamatan di Indonesia ini, terdapat lebih dari 300 masjid, (meskipun rata-rata luas masjid itu 20x M) dan kesemua masjid itu terdapat alat pendingin. Disamping itu pula, tiap 1 KM dari ruas jalan, hampir bisa dipastikan terdapat alat serupa. Dengan demikian, yang membedakan masyarakat kita dengan masyarakat Tarim diantaranya minuman mereka tidak dimasak. Mungkin mereka tidak “menyadari” -atau memang tidak menghiraukan- bahwa air yang mereka konsumsi mengandung zat kapur (karena terletak di sekitar gunung bebatuan) yang membahayakan kesehatan tubuh mereka.
Selain empat perguruan  tersebut di atas, juga masih terdapat perguruan Hifdhul Qur’an,sebuah lembaga untuk proses kegiatan menghafal al Qur’an. Maka sudah menjadi hal yang biasa, jika banyak anak-anak kecil di Tarim sudah khafidz (baca: hafal Al Qur’an 30 juz).
Tidak jarang kita dapati mainan anak kecil masyarakat Tarim sama dengan anak-anak kecil masyarakat Jawa seperti: gupak sodor, jitung ngumpet, plek-plek brok dll. Pakaian keseharian mereka pun sarung -mengingat pakaian adat orang Arab adalah gamis. Hal ini jelas semakin menguatkan argumen penulis di atas.
Jika ada pihak yang ingin melakukan riset terhadap “hubungan historis Hadromaut dengan Nusantara”, di kota ini terdapat perpustakaan yang menyimpan beribu-ribu manuskrip -dari berbagai displin ilmu.
Ada satu hal lagi yang menjadi semacam “identitas” Tarim adalah, tiap harinya bisa dipastikan selalu ada saja pengumuman orang meninggal dunia. Namun bukan lantas masyarakat Tarim selalu ada yang mati. Akan tetapi orang meninggal yang dimaksud bisa berasal dari luar negeri yang memang mempunyai famili di Tarim.

Penulis
H. Syukron –  penulis adalah mahasiswa di Yemenia University, Sana’a

Tidak ada komentar:

Posting Komentar